Sabtu, 13 Agustus 2016
Subahnalle (Motif Kuno)
Nenek moyang kami dulu dengan saking kagumnya berulang kali melafalkan ”subhanallah”, Maha Suci Allah, ketika menyelesaikan penenunan motif kuno (motif pertama) yang luar biasa rumit, sulit, dan pengerjaannya yang teramat lama. Demikian pula mereka yang melihat motif ini. Mereka spontan mengucapkan ”subhanallah” ketika melihat hasil karya tenun Lombok yang demikian indah.
Dari ungkapan kekaguman terhadap kebesaran Allah itu, lahirlah motif yang disebut subahnale. Motif subahnale berupa susunan geometris segi enam seperti sarang lebah dengan isian bunga. Motif ini merupakan salah satu motif kuno di Lombok. Kerumitan dan keindahan motifnya diakui dunia.
Kain-kain terbaik itu digunakan untuk upacara adat, Seperti acara perkawinan dsb.
Pengantin perempuan mengenakan kain tenun songket bermotif subahnale dipadu kebaya modifikasi. Pengantin pria menggunakan kain songket motif serupa sebagai sarung atau selewaoq dan dipadu godek nongkeq itu nama baju adat khusus pria.
Dalam masyarakat Lombok, terdapat tradisi yang disebut nyongkolan, yaitu pengantin pria mengantar pengantin perempuan mengunjungi rumah orangtuanya setelah rangkaian akad nikah dan resepsi dilaksanakan. Rombongan berjalan dengan di iringi musik tradisional menuju rumah orangtua pengantin perempuan. Dan acara
Nyongknlan ini di istilahkan dengan RAJE SEJELO (Raja Sehari).
Para pengiring perempuan juga mengenakan baju lambung yang terbuat dari kain yang di tenun hitam polos dengan tepi berhias, dan kita bisa melihat setatus pengiring perempuan dari motif hiasan di tepi baju lambung yang mereka kenakan,dipadu bawahan berupa kain tenun ikat atau songket. Kain ini dikenakan di pinggang dengan bantuan lilitan sabuk anteng, semacam setagen berupa kain tenun ikat bermotif segitiga dan garir lurus.
Meski sudah jauh berkurang karena alasan keperaktisan, kain tenun di Pulau Lombok masih dipakai dalam upacara adat. Seperti pada acara peraq api atau lepasnya pusar bayi, bekuris (mencukur rambut bayi), sorong serah aji krama (penyerahan kain tenun dari keluarga mempelai pria kepada keluarga istri), dan besunat (khitan).
Untuk keperluan sehari-hari, kain tenun dipakai untuk menggendong anak, selimut, beribadah(sorban dan sajadah), dan penutup jenazah(diluar keramba), sebagaimana kain tenun di belahan Nusantara, kain tenun Lombok juga mewarnai perjalanan hidup seorang manusia sejak lahir hingga tutup usia.
Kebetulan diDesa kami Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, perempuan masih mengikuti aturan adat, baru diperbolehkan menikah jika sudah pandai menenun. Mereka diharuskan untuk menenun setidaknya satu dua helai kain yang nanti akan diberikan kepada calon suami, diacara sorong serah aji krame.
Ketika musim tanam dan panen, aktivitas menenun biasanya berhenti karena perempuan turun ke sawah. Dan di musim ini biasanya songket Limit....
Semoga infonya bermanfaat
Mengenal Budaya Nusantara Penghasil Songket
Songket Dari Pulau Lombok
Desa Sukerare terletak di Kabupaten Lombok Tengah Kecamatan Jonggat ini adalah sebuah desa yang terkenal dengan kerajinan tenun tradisional atau songketnya walaupun hanya sebuah desa kecil namun desa ini memiliki ciri dan karakteristik tersendiri sebagian besar perempuan yang tinggal di desa ini bekerja sebagai penenun, bahkan sejak dari anak-anak, para orang tua sudah mengajarkan atau mewariskan kerajinan menenun kepada anak perempuan mereka.
Mengenal Tenunan Dari Desa Sukerare
Desa Sukerare terbagi menjadi beberapa dusun, yaitu Dusun Belong Lauk dan Dusun Belong Daye. Uniknya, di setiap desa tersebut, para kaum perempuannya di wajibkan untuk bisa menenun, atau dalam bahasa Sasak disebut nyesek. Kemahiran dalam menenun ini wajib karena dijadikan syarat pernikahan untuk anak-anak mereka.
Hasil tenunan khas Sukerare adalah kain Songket. Biasanya kain tersebut digunakan pada saat upacara adat, seperti pesat besar atau begawe beleq. Kerajinan tenun merupakan pekerjaan utama bagi penduduk permpuan desa tersebut selain bertani dan berkebun.
Di sepanjang jalan desa ini banyak toko-toko yang menjual tenunan sekaligus memperlihatkan proses pembuatannya yang biasanya diperagakan oleh para wanita desa berpakaian khas lambung.Ciri khas tenunan dari desa Sukerare ini adalah tenunan memakai benang emas yang sering di sebut kain songket
Proses Pembuatan Kain Songket Desa Sukerare
Kain songket merupakan kain tenunan yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan, hiasan dibuat dengan menyisipkan benang perak, emas. Sekarang ini pusat pengrajin kain songket adalah desa Sukekare disinilah jika ingin membeli kain tenun tradisional khas Desa Sukerare, serta melihat bagaimana para penenun melakukan pekerjaannya. Desa ini sangat menarik untuk dikunjungi karena kegiatan sehari-hari masyarakat di desa ini menenun. Ciri khas tenunan dari desa Sukarara ini adalah tenunan memakai benang emas, desa ini telah dikenal menjadi salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Ciri Khas Songket Desa Sukerare
Ciri khas khusus dan desain tradisionalnya adalah menggambarkan gaya hidup kuno pulau Lombok dengan motif rumah adat dan lumbung serta motif tokek, masih mereka pertahankan sampai saat ini.
Walaupunhanya dengan menggunakan alat tenun tradisional yang sangat sederhana, namun hasil tenun dari Desa Sukerare ini memiliki kualitas yang sangat baik dan sangat mengagumkan.
Desain kain tenun Desa Sukerare ini memang diakui sangat mengesakan jika dilihat dari aplikasi perpaduan warna-warna alam dengan pola tradisional asli Pulau Lombok.
Bahan baku yang mereka gunakan adalah benang katun, sutera, sutera emas dan benang sutera perak. Sedangkan untuk bahan pewarna yang mereka gunakan adalah dari bahan pewarna alami sepertiwarna coklat kemerahan dari pohon mahoni, warna coklat muda dari batang jati, warna coklat tanah dari biji asam, warna coklat tua dari batang pisang busuk, dan warna ungu dari kulit manggis dan anggur.
Hal inilah yang membuat kain tenun atau songket dari Desa Sukerare ini terkenal dengan ciri khas kain songket yang berpola cerah. Dan juga hasil tenun Desa Sukerare ini sudah banyak dikenal dan sangat dusukai oleh wisatawan mancanegara.
Langganan:
Postingan (Atom)

